Polisi Ideal, Sebuah Harapan

Di ujung estafet kepemimpinan Jenderal Pol. Bambang Hendarso Dauri BHD) sebagai Kapolri, lembaga kepolisian diterpa badai masalah yang datang secara bertubi-tubi, dari masalah reformasi lembaga kepolisian berupa reformasi struktur, kultur dan instrumental, masalah oknum polisi yang melanggar kode etik profesi dan ikut terlibat dalam makelar kasus, masalah rekening ‘gendut’ beberapa perwira Polri, masalah penyidikan dan penyelidikan terhadap suatu kasus sampai dengan masalah ‘perang’ bintang, sehingga tidak berlebihan bila salah seorang anggota komisi II DPR RI mengatakan bahwa kepemimpinan BHD merupakan kepemimpinan terburuk sepanjang sejarah berdirinya lembaga tersebut.
Lahirnya organisasi kepolisian merupakan bagian daripada keniscayaan sejarah peradaban masyarakat dimana idealnya polisi dan masyarakat saling membutuhkan, karena hampir semua tugas polisi bersentuhan langsung dengar masalah-masalah asasi dalam masyarakat, dan letak keberhasilan tugas-tugas polisi ada pada dukungan dan pengakuan dari masyarakatnya.
Akan tetapi berbalik dari harapan ideal diatas, kelahiran polisi dalam masyarakat Indonesia justru menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat, kondisi itu tercipta berawal dari kerakusan tangan-tangan oknum polisi yang ingin memperkaya diri sendiri dengan seragam yang dipakainya, dengan jabatan yang didudukinya, dan dengan hukum ditangannya. Sejumlah perbuatan oknum polisi yang mencemarkan nama baik institusi mulai dari jual beli jabatan, sogok-menyogok ketika menerima calon anggota Polri, distribusi logistik dan anggaran sampai dengan pungutan liar diruang kantor maupun di jalan raya. Harus dipahami, masyarakat melihat perilaku anggota polisi tidak sebagai oknum, namun sebagai institusi yang apabila satu oknum melakukan tindakan menyimpang, maka bermakna lembaga kepolisian ikut tercederai.
Kelahiran buku ini sangat penting bagi lembaga kepolisian dimana jajaran Polri dapat melakukan pembenahan yang diperlukan dalam rangka mereformasi lembaganya dan meraih kepercayaan public terhadap kinerjanya. Buku ini juga kian terasa penting bagi masyarakat umum yang ingin mengetahui lebih mendalam tentang sosok polisi kita, kelahiran, kehadiran, urgensi keberadaan sikap perbuatan, sampai dengan pembinaan relasi antara polisi dengar masyarakat.
Buku ini patut dijadikan referensi karena tidak hanya memaparkan masalah semata, namun ikut memberikan kontribusi dan solusi dari masalah yang dihadapi oleh lembaga kepolisian seperti cara menghadapi massa demonstran menggagas kultur Nir-Kekerasan dalam komunitas Polri, sampai dengan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja polisi.
Disamping turut memberikan kontribusi bagi pemikiran masyarakat dalam mempersiapkan Poin, semoga banyak memberikan pencerahan, harapan, dan kepastian.